Awal kisah murid SMA Selamat Pagi Indonesia – Pengorbanan Seorang Ayah

Diambil dari buku Selamat Pagi Indonesia, MIC Publishing.

Olfarida Pode’u, Poso, Sulawesi Tengah

Papa dan mama berprofesi sebagai guru. Ketika papa mulai sakit liver dan diobati, penyakitnya sempat sembuh. Dokter mengatakan bahwa papa harus beristirahat selama enam bulan. Di saat yang bersamaan, papa dipercaya untuk memimpin sebuah sekolah atau menjadi kepala sekolah di sekolah yang baru saja dibangun. Persiapan untuk menjadi kepala sekolah membuat papa mengatur segala hal yang berkaitan dengan sekolah baru. Hal ini tentu menguras energi papa sehingga kondisi tubuhnya menjadi drop. Akhirnya penyakit liver papa berkembang menjadi Hepatitis B. Papa meninggal pada 9 Januari 2007, saat aku masih kelas 2 SMP.

Sejak kecil, papa juga mengajarkan kami anak-anaknya untuk berani tampil, misalnya saat kami harus menyanyi di depan umum. Karena papa suka menyanyi, Papa akhirnya beberapa kali mendaftarkan kami untuk untuk mengikuti lomba menyanyi. Di setiap lomba yang aku ikuti, tidak satu pun yang mereka lewatkan. Kedua orang tuaku bisa dipastikan hadir saat aku tampil.
Pada suatu lomba, aku mewakili sekolah dari kabupaten Poso untuk berlomba di kota Palu. Aku izin ke papa selama satu minggu untuk lomba. Dalam lomba-lomba sebelumnya papa selalu mengiyakan, memberi izin, dan berkata “Papa pasti datang”. Namun berbeda pada lomba kali ini, papa hanya tersenyum dan tidak mengatakan apapun. Tiba pada saatnya tim kami tampil, panggung dalam keadaan gelap. Kami lalu naik menuju panggung. Pada saat mulai bernyanyi, tiba-tiba lampu dinyalakan. Pada saat aku melihat ke depan, aku melihat papa dalam kondisi yang sangat lemah dengan ditopang oleh mama. Malam itu, aku memberikan penampilan terbaikku. Juri lalu mengumumkan bahwa tim kami berhasil meraih juara dua.

Pengalaman berkesan yang tidak akan kulupakan hingga hari ini terjadi di penghujung tahun 2006. Saat itu kami semua sedang asyik menonton televisi untuk melihat acara kembang api sebagai perayaan pesta tahun baru. Papa tiba-tiba mengajak kami berdoa bersama. Papa bukanlah orang yang fanatik dengan agamanya. Beliau memang pergi ke gereja tapi biasa-biasa dalam menjalankan ibadahnya. Entah mengapa tanggal 31 Desember 2006 menjelang pukul 24.00 papa yang sudah dalam kondisi sakit mengumpulkan mama, aku, adik dan kakak untuk mengajak kami berdoa. Pasca doa tersebut, tepatnya pada tanggal 9 Januari 2007, papa harus mengahdap Tuhan.

Aku cukup terpukul ketika papa pergi untuk selamanya. Aku sempat protes pada Tuhan, mengapa harus papa yang diambil. Mengapa bukan  orang lain saja. Waktu itu aku tidak bisa menerima kenyataan yang terjadi dan aku merasa benci dengan Tuhan. Hingga suatu saat aku menyadari bahwa Tuhan itu telah menyediakan sesuatu yang indah buat kita. Tuhan tetap memelihara kehidupan keluargaku. Kakak bisa bersekolah di SMA Selamat Pagi Indonesia.

Awalnya, salah satu alasanku sekolah di SMA Selamat Pagi Indonesia ini adalah supaya aku bisa membantu mama. Namun ada alasan alin yaitu aku ingin menghindar dari teman-teman. Aku masih belum bisa menghilangkan perasaan malu dan minder karena tidak memiliki papa. Tetapi setelah lama di sini, pemikiranku berubah. Aku lebih percaya diri.
Ko Julianto Eka Putra pendiri SMA Selamat Pagi Indonesia, berkata bahwa masa lalu tidaklah menjadi penentu masa depanmu. Lalu aku berpikir, mungkin masa lalu aku tidaklah begitu baik, tetapi aku belajar dari peristiwa di masa lalu agar aku memiliki masa depan yang luar biasa.

Aku berharap kisah hidup yang kubagikan ini bisa menjadi pelajaran bagi setiap pembaca. Bagi pembaca yang masih seusia denganku dan masih memiliki orang tua, kalian bisa menghargai dan mensyukuri orang tua yang masih ada di samping kalian. Karena kita tidak pernah tahu kapan Tuhan akan mengambil orang tua kita. Dalam hidup ini kita juga tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari. Oleh karena itu, sebaiknya kita hidup sambil berjaga-jaga, ya!

Dari kisah ini kita dapat mengambil hikmah. Sebagai ayah – tulang punggung keluarga yang berperan memberi nafkah pada istri dan anak-anak haruslah mempunyai perencanaan masa depan bagi keluarganya bila meninggal, sakit kritis atau lainnya yang menyebabkan peran sebagai pencari nafkah tidak dapat dilanjutkan. Untuk melindungi hal ini Asuransi Jiwa Sinarmas MSIG memberikan solusi.

Bapak Adi usia 35 tahun membeli SMiLe Link untuk rencana pendidikan anaknya Dimas usia 5 tahun dan melakukan pembayaran premi per bulan sebesar Rp 251.000 selama 10 tahun dengan kombinasi premi pokok 50% dan premi top up 50%.
Manfaat yang diperoleh :
– Uang pertanggungan bila tertanggung meninggal dunia — Rp 7,5 juta
– Manfaat bila Bapak Adi meninggal dunia / menderita cacat tetap total / terdiagnosa salah satu dari penyakit kritis — bebas bayar premi lanjutan

Dana investasi yang dimiliki Bapak Adi ditempatkan pada Excellink Agresive Fund, berdasarkan asumsi hasil investasi rata-rata 18% per tahun.
Penarikan dana:
Rp 7 juta saat Dimas masuk SMP
Rp 10 juta saat Dimas masuk SMA
Estimasi nilai tunai di saat Dimas masuk kuliah sebesar Rp 49,4 juta

Bila Anda tertarik dengan Asuransi Pendidikan di atas silakan hubungi saya di 0857 3219 3231

selengkapnya ada di Brosur

Brosur1_ Brosur2_

Video Lagu Ayah ciptaan Rinto Harahap yang dinyanyikan oleh Olfarida sambil bermain gitar ada di Youtube

About r1sthree

Pribadi yg sederhana. Pekerja IT. Tertarik dengan komputer, web design, vb programming, internet, dll.

Posted on January 29, 2014, in Asuransi jiwa, Cerita, Curahan Hati, Filosofi Hidup and tagged , , , , , , . Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: