Manajemen Lisan

Diambil dari http://www.republika.co.id/berita/dunia-islam/hikmah/13/10/13/mukg47-manajemen-lisan

REPUBLIKA.CO.ID, Oleh Muhbib Abdul Wahab

Salah satu nikmat Allah SWT yang sangat berarti bagi interaksi sosial adalah lisan. Dengan lisan manusia berbahasa, berdialog, dan berkomunikasi dengan orang lain. Dengan lisan pula Rasul SAW menyampaikan pesan-pesan Ilahi kepada umatnya.

Hanya saja, tidak semua lisan termenej dengan baik. Kadang lisan digunakan untuk kebaikan. Tidak jarang pula lisan digunakan untuk memproduksi kata-kata kotor, fitnah, caci maki, teror, dan sebagainya.

Padahal, menurut sebuah pepatah: “Mulutmu adalah harimaumu”. Karena itu, manajemen lisan menjadi sangat penting. Sebuah pepatah Arab menyatakan: “Salamatul insan fi hifzhil lisan” (Keselamatan manusia itu sangat tergantung pada pemeliharaan lisan).

Diriwayatkan oleh Abu Daud dan At-Turmudzi, Nabi SAW pernah duduk bersama ‘Aisyah RA. Tiba-tiba Sofiah Binti Huyai, istri beliau, datang menemui keduanya. ‘Aisyah terlihat agak cemburu, dan berkata kepada beliau: “Cukuplah dia (Sofiah) yang pendek itu untukmu!

Nabi langsung menegur keras ‘Aisyah: “Engkau sungguh telah mengeluarkan kata-kata yang jika dicampurkan dengan air laut, niscaya airnya menjadi sangat keruh!“.

Teguran Nabi SAW tersebut menunjukkan bahwa siapapun, termasuk istri beliau sendiri, harus berhati-hati dalam menggunakan lisannya. Jika tidak, maka lidah yang tidak bertulang itu dapat menimbulkan bencana.

Sebuah syair Arab menyatakan: “Jagalah lisanmu jika engkau berbicara, sebab lisan dapat membawa bencana. Ketahuilah bahwa bencana itu sangat bergantung pada lisannya.

Karena itu, Nabi SAW bersabda: “Tidak akan lurus iman seorang hamba sebelum lurus hatinya, dan tidak akan lurus hati seorang hamba sebelum lurus (benar) lisannya.” (HR Ahmad).

Menjaga dan memanej lidah sangat penting bagi setiap Muslim. Indikator keberislaman seseorang, antara lain, terletak pada kemampuannya menjaga lidah untuk tidak digunakan untuk berkata kotor, menyakiti hati orang lain, memfitnah, memprovokasi, mengadu domba, dan sebagainya.

Yang disebut Muslim adalah orang yang lisan dan perbuatan tangannya membuat orang lain aman dan selamat.” (HR Muslim). Karena itu, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah berkata baik atau diam.” (HR Al-Bukhari dan Muslim)

Setidaknya ada lima cara mudah untuk memanej lisan agar apa yang diucapkan itu tidak sia-sia. Pertama, jangan berkata kalau tidak bermanfaat, baik bagi diri sendiri maupun orang lain.

Kedua, carilah waktu, kata-kata dan situasi yang tepat untuk berbicara. Artinya berbicaralah sesuai dengan keperluan. Karena itu, jangan terlalu banyak berbicara, sebab “Sebaik-baik perkataan adalah yang singkat tapi padat dan efektif (tepat sasaran, bermakna) (HR At-Tabarani).

Ketiga, iringi setiap perkataan dengan dzikir  kepada Allah agar tidak berlebihan dalam berbicara. “Janganlah engkau banyak berbicara tanpa  dzikir  kepada Allah, sebab banyak bicara tanpa dzikir kepada Allah  dapat mengeraskan hati. Sementara, orang yang paling jauh dari Allah adalah orang yang berhati keras.” (HR At-Turmudzi).

Keempat, jangan suka mengobral janji ketika berbicara, karena berjanji itu lebih mudah (terutama bagi yang sedang berkampanye) daripada menepatinya. Jika perkataan seseorang tidak lagi dapat dibuktikan dengan perbuatannya, maka terjadilah krisis kepercayaan dan menyebabkan kemurkaan Allah.

Hai orang-orang beriman, mengapa engkau mengatakan sesuatu yang tidak kamu perbuat. Amat besar kebencian Allah bahwa kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan.” (QS Ash-Shaff [61]: 2-3).

Kelima, jauhi ghibah (membicarakan aib orang lain) dan perkataan tidak terpuji karena hal ini dapat mengundang keterlibatan setan untuk membumbui dan memprovokasi. Karena itu, carilah mitra bicara yang tidak suka melakukan ghibah.

Menjauhi ghibah merupakan pangkal keselamatan. ‘Uqbah Bin ‘Amir pernah bertanya kepada  Nabi SAW: “Apa itu keselamatan?” Nabi menjawab: “Kendalikan lisanmu, berusahalah untuk (kebutuhan) rumah tanggamu, dan tangisilah kesalahanmu.” (HR At-Turmudzi).

Jadi, memanej lisan untuk kebaikan dan kemasalahatan diri sendiri dan orang lain merupakan kunci keberhasilan dan keselamatan kita semua. Karenanya, kita harus mensyukuri nikmat lisan ini hanya untuk kebaikan, bukan untuk menebar fitnah, kebencian, dan kemaksiatan.

About r1sthree

Pribadi yg sederhana. Pekerja IT. Tertarik dengan komputer, web design, vb programming, internet, dll.

Posted on November 5, 2013, in Islam, Psikologi. Bookmark the permalink. Leave a comment.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: